Departemen Kesehatan Republik Indonesia menetapkan tiga pilar kesehatan yang saling bersinergi guna mewujudkan Rakyat Indonesia berkualitas. Tiga pilar tersebut yakni Lingkungan sehat, lingkungan fisik dan non fisik, dan jajaran kesehatan yang bekomitmen tinggi. Penegasan itu dikemukakan Kajari Sambas, Suhadi SH saat membacakan Sambutan Menteri Kesehatan RI dr Endang Rahayu Sedyaningsih MPH DR PH pada peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-45 di Sambas yang dipusatkan di halaman Kantor Bappeda Sambas, Selasa (10/11).
Dilanjutkan Suhadi, Lingkungan sehat merupakan cermin perilaku sehat dan menunjukkan kemandirian masyarakat memelihara serta meningkatkan kualitas kesehatannya, didukung pelayanan kesehatan bermutu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. “Lingkungan baik fisik maupun non fisik sangat penting untuk menciptakan rakyat bertambah sehat yang dibantu partisipasi berbagai program dan berbagai sektor, Seluruh jajaran kesehatan harus mampu mendorong masyarakat terus meningkatkan komitmennya dalam peningkatan kualitas kesehatan lingkungan, sehingga masyarakat semakin sehat dan produktif,” ujar dia
Kata Suhadi, Rakyat merupakan kekuatan negara sebagai bagian dari ketahanan nasional dan memberikan sumbangsih nyata meningkatkan daya saing bangsa khususnya era globalisasi dewasa ini. Rakyat sehat juga wujud keuletan dan ketangguhan suatu bangsa, yang memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya, baik secara fisik mental dan sosial serta memiliki produktifitas yang tinggi. “Berbagai indikator menunjukkan bahwa terjadi korelasi positif antara derajat kesehatan masyarakat dengan produktifitas yang merupakan perwujudan kualitas sumber daya manusia yang baik, produktifitas itu akan memperkuat ketahanan ekonomi dan pada gilirannya akan memperkuat ketahanan suatu bangsa. Ketahanan bangsa menunjukkan kualitas bangsa yang baik, selama ini diukur dengan Indeks Pembangunan Manusia yang merupakan indikator komposit dari pendidikan kesehatan dan tingkat perekonomian masyarakat,” jabar dia.
Dikemukakan Kajari, Sayangnya IPM Indonesia belum setinggi negara asean lainnya seperti Malaysia dan Singapura. Inilah katanya tugas bersama guna meningkatkan cita-cita tersebut dalam waktu singkat secara optimal. RPJM Nasional 2004-2009 telah menetapkan pembangunan kesehatan diarahkan mencapai empat sasaran, yaitu meningkatnya usia harapan hidup dari 66,2 tahun menjadi 76 tahun, menurunnya angka kematian bayi dari 35 menjadi 26 per 100000 kelahiran hidup, menurunkan angka kematian ibu melahirkan dari 266 per 100000 kelahiran hidup dan menurunnya prevalansi gizi kurang pada anak balita dari 25,8 persen menjadi 20 persen. Data dari Depkes RI menyajikan pencapaian pembangunan sudah menunjukkan keberhasilan yang cukup baik dengan tercapainya UHH 70,5 Tahun, AKB 34 per 100000 kelahiran hidup, AKI 228 per 1000 kelahiran (SDKI 2007) dan gizi kurang mencapai 18 persen dari Riskesdas 2007. “Dalam rangka meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas, program departemen kesehatan sesuai nasional summet bidang kesra meliputi Peningkatan pembiayaan kesehatan untuk memberikan jaminan kesehatan masyarakat. Peningkatan kesehatan masyarakat, guna mempercepat pencapaian target millenium devolepment goals dan Pengendalian penyakit dan penanggulangan masalah kesehatan akibat bencana,” papar Suhadi.
Mengenai pembangunan wilayah perbatasan, disebutkan dia dalam sambutan tersebut Depkes meningkatkan ketersediaan pemerataan dan kualitas tenaga kesehatan terutama didaerah terpencil, tertinggal, perbatasan dan kepulauan secara berkesinambungan. Diakui, masalah lingkungan masih merupakan tantangan yang cukup besar dibidang kesehatan seperti terbatasnya ketersediaan dan akses air bersih, rendahnya akses sanitasi, tingginya polusi udara serta masih rendahnya perilaku hidup bersih dan sehat. “Riskesdas 2007 memperlihatkan rumah tangga yang tidak menggunakan fasilitas air bersih sebesar 24,8 persen, tidak memiliki saluran pembuangan air limbah sebesar 32,5 persen. Hal-hal yang memperlihatkan kecendrungan positif kearah pencapaian dan peningkatan lingkungan sehat adalah rumah tangga yang mempunyai akses air bersih sebesar 57,7 persen dan 63,3 persen rumah tangga mempunyai akses sanitasi yang baik,” ungkapnya.
Ditegaskan Suhadi, Momentum Harkesnas ke-45, harus berupaya secara terus menerus melakukan peningkatan dan perbaikan meningkatkan lingkungan sehat seperti yang sudah ditargetkan dalam program 100 hari bidang kesehatan. Depkes mentargetkan Januari 2010 harus mencapai air minum sebanyak 1379 lokasi dan peningkatan lokasi di 61 lokasi. Sedangkan indikator kinerja pada tahun 2014 bidang kesehatan yaitu tercapainya program air bersih menjangkau 67 persen penduduk dan peningkatan sanitasi dasar berkualitas untuk 75 persen penduduk. “Diharapkan dapat menekan penyakit yang diakibatkan oleh hal itu,” pungkasnya.
Pola paragigma baru kesehatan menempatkan masyarakat sebagai subjek, diberdayakan agar mandiri memenuhi kebutuhan kesehatan berkesinambungan dan mengembangkan prakarsa membangun lingkungan sehat dengan melibatkan masyarakat seperti kegiatan sanitasi total berbasis masyarakat. Termasuk sektor swasta dan dunia usaha melalui kegiatan kemitraan sebagai faktor kunci mencegah dan menyelesaikan masalah kesehatan disamping provider kesehatan dan lintas sektoral.
Popularity: 22% [?]
Related posts:
- 4 SASARAN PEMBANGUNAN KESEHATAN SAMBAS
- Ajarkan Anak Sejak Dini Hal Positif
- Tim Khusus Depkes RI Tinjau Prasarana Kesehatan Perbatasan Sajingan
- Puncak HKN 45 Sambas
- Peran Guru Harus Berkualitas
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.


